Sabtu, 18 Desember 2010

GURU DAN MOTIVASI BERPRESTASI


Abah
Dalam hidup ini setiap orang pastilah memiliki tujuan yang hendak dicapai. Para pedagang ingin jualannya laku dan mendapat untung; para kuli berharap setiap hari kebutuhan hidupnya terpenuhi; pelajar ingin naik kelas; lulus ujian dan berprestasi; para pegawai ingin kariernya meningkat dan kebutuhannya terpenuhi. Semua pasti memiliki keinginan untuk mencapai tujuan aktivitasnya.
 Banyak faktor yang menentukan semua itu, antara lain motif berprestasi individu. Tapi kadang, individu tidak menyadari dan tidak peduli terhadap hal tersebut. Lalu muncul pertanyaan pertanyaan:
1.      Apa sih motivasi berprestasi? 
2.      Apakah kaitannya dengan keberhasilan seseorang? 
           
Untuk menjawabnya, yuk, kita pahami tulisan berikut!

1.    Pengertian Motif, Motivasi dan Motif Berprestasi
Moekijat (2001 : 4), mendefinisikan motif sebagai suatu daya pendorong atau perangsang seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif memiliki pengertian yang sama dengan motivasi sedangkan Adair (2008 : 1), mengungkapkan bahwa motif sama dengan motivasi yakni semua alasan yang melandasi cara seseorang bertindak. Motivasi adalah suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang. Dorongan itu memaksa seseorang untuk bergerak atau bertindak. Adair (2008 : 110) lebih jauh menjelaskan bahwa setiap orang yang memiliki motivasi yang baik memiliki prestasi yang baik pula dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki motivasi. Dengan demikian, motivasi yang baik dan positif seorang guru dapat menciptakan, memelihara, dan meningkatkan kinerjanya
Sudrajat (2008 : 2), menjelaskan bahwa motif atau motivasi adalah suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang. Dorongan itu memaksa seseorang untuk bergerak atau bertindak. Sedangkan motivasi berprestasi ialah motivasi yang menyebabkan orang menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari kondisi sebelumnya. Motivasi berprestasi guru merupakan dorongan internal yang membuat dirinya melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai guru lebih baik dan meningkat dari sebelumnya sehingga tujuan pendidikan tercapai secara optimal.

2.    Pentingnya Motif Berprestasi Guru
Seorang guru yang memiliki motivasi yang tinggi, dia akan berusaha melakukan yang terbaik; merencanakan pembelajaran dengan matang; melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan menarik; melaksanakan evaluasi dengan tepat. Dia akan memiliki kepercayaan diri untuk bekerja mandiri dan bersikap optimis. Dia tidak akan merasa puas dengan prestasi yang telah diraih serta mempunyai tanggung jawab yang besar atas tugas dan kewajibanya sebagai seorang guru. Dia selalu ingin meningkatkan prestasi yang telah diraihnya. Guru yang memiliki motivasi berprestasi, umumnya lebih baik dan berhasil dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Sebelum perkembangan teknologi seperti saat ini, motivasi berprestasi seorang guru sangat tinggi karena pada zaman itu fasilitas-fasilitas pembelajaran tidak selengkap saat ini. Saat ini fasilitas-fasilitas tersebut begitu mudah diperoleh sehingga mereka tidak perlu lagi repot-repot membuat sendiri, tinggal memakai. Sekolah umumnya sudah menyediakan. Akibatnya motivasi berprestasi mereka rendah.
Untuk mendapatkan sesuatu pada zaman dulu jauh lebih sulit dibandingkan saat ini. Dulu, seorang guru harus kreatif dan membuat sendiri media pembelajaran yang akan digunakan di kelas. Kondisi seperti itu mendorong setiap guru saat itu untuk dapat membuat dan menciptakan media pembelajaran sendiri. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat mudah karena semakin canggihnya teknologi sehingga motivasi berprestasinya berkurang bahkan tidak ada sama sekali.
Meskipun demikian, tetap saja seorang guru dituntut memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Paling tidak, seorang guru harus memiliki dorongan untuk dapat menguasai dan menggunakan media pembelajaran modern yang mudah didapatkan tersebut. Kalau tidak,  niscaya guru tersebut akan menjadi seorang guru yang tertinggal. Bila kondisi guru seperti itu, mana mungkin kualitas pendidikan di Indonesia bias meningkat. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu meningkatkan motivasi berprestasi secara sangkil dan mangkus.

3.      Hubungan Motif Berprestasi dengan Perilaku
Dalam keseharian, kita melihat adanya guru yang rajin, berdisiplin, bertanggung jawab. Ada juga guru yang malas, kurang berdisiplin, dan kurang memiliki tanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya. Ada guru yang dinamis. Tiap saat dia selalu berpikir dan mencari model-model pembelajaran yang tepat. Ada juga guru yang mengajarnya hanya sebatas melaksanakan tugas, monoton. Ada guru yang dating ke sekolah dan masuk kelas tepat waktu tetapi ada juga guru yang santai, dating ke sekolah dan masuk kelas seenaknya. Ada guru yang sebelum mengajar, serius mempersiapakan bahan dan administrasi sebaik mungkin karena ingin proses pembelajarannya berhasil. Tidak sedikit guru yang tidak melakukan persiapan sama sekali. Mengapa demikian?
Semua perilaku guru tersebut sangat bergantung pada motivasi berprestasi masing-masing. Guru yang memiliki motivasi berprestasi tentu saja akan selalu berpikir dan merencanakan proses pembelajaran dengan baik. Dia memiliki tanggung jawab dan berdisiplin tinggi. Sebaliknya, guru yang tidak atau kurang memiliki motivasi berprestasi, tidak akan melakukan dan memiliki semua itu. Dengan kata lain, semua perilaku guru tersebut sangat dipengaruhi oleh motivasi berprestasi masing-masing.
Adair (2008 : 222-225), menyatakan bahwa motivasi merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan, dan mengorganisasikan tingkah laku. Perilaku merupakan fungsi dari faktor personal dan faktor lingkungan dalam pengertian bahwa perilaku itu timbul karena adanya dorongan faktor internal dan kekuatan faktor eksternal.
Sementara Mangkunegara (2008 : 19-21) menegaskan bahwa perilaku pada dasarnya bersifat mekanistis, yaitu timbul akibat adanya stimulus. Perilaku dipandang sebagai reaksi atau respons terhadap suatu stimulus. (Fitri, 2009: 2) mengungkapkan bahwa perilaku terjadi karena adanya motivasi atau dorongan (drive) yang mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengan kepentingan atau tujuan yang ingin dicapai. Tanpa dorongan tadi tidak akan ada suatu kekuatan yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme munculnya perilaku.
Dorongan diaktifkan oleh adanya kebutuhan (need), dalam arti kebutuhan membangkitkan dorongan, dan dorongan dapat mengaktifkan atau memunculkan mekanisme perilaku.
Menurut konsep (Sudrajat, 2008 : 1) motivasi sebagai pembangkit perilaku mempunyai 3 karakteristik, yaitu : (a) intensitas; menyangkut lemah dan kuatnya dorongan sehingga menyebabkan individu berperilaku tertentu; (b) pemberi arah; mengarahkan individu dalam menghindari atau melakukan suatu perilaku tertentu; dan (c) persistensi atau kecenderungan untuk mengulang perilaku secara terus-menerus.
Mangkunagara (2008 : 53) mengungkapkan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh motivasi atau dorongan oleh kepentingan untuk memenuhi dan pemuasan kebutuhan individu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa perilaku muncul tidak semata-mata karena dorongan kebutuhan individu tetapi karena adanya faktor belajar.
Faktor dorongan tersebut bila ada pada seorang guru akan tumbuh menjadi sebuah energi yang dapat mengaktifkan tingkah laku ( motivasional faktor). Menurut Adair (2008 : 226) ada tiga fungsi motivasional faktor yaitu  kekuatan dari dorongan yang ada pada individu, kebiasaan yang didapat dari hasil belajar, serta interaksi antarkeduanya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi guru merupakan suatu dorongan yang dimulai dari adanya need atau kebutuhan guru yang menyebabkan timbulnya keinginan dan kreasi. Motivasi tersebut berfungsi mengaktifkan, mengarahkan, dan mengulang perilaku positif guru dalam mengatasi dan memenuhi  kebutuhan yang menyebabkan munculnya dorongan pada diri guru untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebaik dan seoptimal mungkin.

4.      Karakteristik Motif Berprestasi
Mangkunegara (2008:19) mengungkapkan beberapa karakteristik orang yang memiliki motivasi berprestasi. Karakteristik tersebut sebagai berikut :
1)      memiliki tingkat tanggung jawab yang tinggi;
2)      berani mengambil dan memikul risiko;
3)      memiliki tujuan yang realistik;
4)      memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasikan tujuan;
5)      memanfaatkan umpan balik yang kongkret dalam semua kegiatan yang dilakukan;
6)      mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan;
7)      melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya;
8)      melakukan sesuatu dengan mencapai kesuksesan;
9)      menyelesaikan tugas-tugas yang memerlukan usaha dan keterampilan;
10)  berkeinginan menjadi orang terkenal atau menguasai bidang tertentu;
11)  melakukan pekerjaan yang sukar dengan hasil yang memuaskan;
12)  mengerjakan sesuatu yang sangat berarti;
13)  melakukan sesuatu yang lebih baik daripada orang lain; dan
14)  berkeinginan menulis sesuatu yang bermutu.

Keempat belas karakteristik tersebut dapat disederhanakan menjadi :
a.       memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi;
b.      memiliki program kerja berdasarkan rencana dan tujuan yang realistik serta berusaha merealisasikannya;
c.       memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan berani mengambil risiko yang dihadapinya dengan hasil yang memuaskan; dan
d.      memiliki keinginan menjadi orang terkemuka yang menguasai bidang tertentu.
Selanjutnya Mangkunegara (2008 : 20) menjelaskan bahwa motivasi berprestasi memiliki hubungan yang kuat dengan pencapaian prestasi kerja. Bila hal itu dimiliki seorang guru, proses pembelajaran akan berhasil. Akibatnya, kualitas pendidikan meningkat. Dari hubungan tersebut dapat digambarkan bahwa seseorang guru yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, dia memiliki kinerja yang baik serta prestasi kerja tinggi. Sebaliknya, guru yang tidak atau kurang memiliki motif berprestasi, prestasi kerjanya pun rendah. Akibatnya proses pembelajaran pun tidak berhasil seperti yang diharapkan.

5.      Teori Kebutuhan
Adair (2008 : 43-54) mengklasifikasikan hierarki kebutuhan manusia sebagai berikut :
1.      Kebutuhan fisiologis (psychological needs), yaitu kebutuhan akan sandang, pangan dan papan yang merupakan kebutuhan primer.
2.      Kebutuhan akan rasa aman (safety needs), yaitu kebutuhan akan keamanan jiwa dan harga diri.
3.      Kebutuhan sosial (social needs), terdiri dari :
a.    Kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain dalam hidup bermasyarakat dan bekerja (sense of belonging).
b.    Kebutuhan akan perasaan dihormati karena manusia merasa dirinya penting (sense of important).
c.    Kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal (sense of achievement).
d.   Kebutuhan akan perasaan ikut serta (sense of participation).
4.      Kebutuhan akan prestise (esteem needs).
Prestise yang timbul karena prestasi tapi ada pula yang berdasarkan kepada keturunan. Prestise yang timbul karena prestasi adalah sesuatu yang diusahakan dan semakin tinggi kedudukan seseorang, prestisenya semakin baik.
5.      Kebutuhan mempertinggi prestasi kerja (self actualization)

Dengan memperhatikan berbagai kebutuhan di atas, hendaklah kepala sekolah memberi peluang dan kesempatan kepada guru untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut secara simultan. Keberhasilan seorang kepala sekolah dalam memenuhi hal tersebut merupakan indikasi bahwa dia telah berhasil menyinkronkan tujuan sekolah/lembaga dengan tujuan pribadi guru-gurunya. Dengan kondisi seperti ini,  berarti sekolah sebagai sebuah wadah dan sebagai sebuah proses pedidikan sudah melaksanakan fungsinya dengan tepat.
Uraian lebih lanjut tentang lima kebutuhan menurut Maslov sebagai berikut .
a.       Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
Kebutuhan fisiologis biasanya dijadikan titik tolak dalam teori motivasi. Pemenuhan kebutuhan ini menjadi titik awal untuk meraih kebutuhan-kebutuhan yang berada di atasnya. Pada sisi lain pemenuhan kebutuhan tersebut dalam keadaan berimbang dengan kekurangannya. Dengan kata lain, jika kebutuhan itu terpenuhi dengan baik ia akan menjadi kebutuhan lagi. Maka perilaku diarahkan untuk meraih kebutuhan yang berada di atasnya. Sementara jika rasa lapar masih mendera maka perilaku manusia bersifat stagnan untuk diarahkan kepada tingkat kebutuhan yang lebih tinggi. Bagaimanapun keadaannya pemenuhan kebutuhan perut (makan), pakaian merupakan hal yang paling mendasar. Karena itu, merupakan hal yang mustahil menuntut semangat kerja dan disiplin yang tinggi kepada karyawan/pegawai apabila mereka dalam keadaan lapar.
b.      Kebutuhan akan keselamatan
Jika kebutuhan fisiologis relatif terpenuhi maka akan muncul kebutuhan baru yang tidak kurang pentingnya. Kebutuhan akan keselamtan, keamanan, kemantapan, bebas dari rasa takut, cemas, kekalutan dan sebagainya.
Kebutuhan ini merupakan pengatur yang bersifat eksklusif yang menyerap semua kapasitas organisme untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pemenuhan kebutuhan ini membawa dampak kepada perasaan hati yang tenang karena perasaan hati timbul sebagai reaksi rasa dari segenap organisme, psiko-fisik manusia.
c.       Kebutuhan Sosial
Jika kebutuhan fisiologis dan kebutuhan keselamatan terpenuhi maka akan muncul kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan masalah sosial, seperti rasa cinta, rasa kasih, rasa memiliki, ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan sebagainya. Seorang individu yang berada dalam sebuah kelompok memerlukan rasa kasih sayang dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia haus akan suasana kekeluargaan, mencari saluran untuk menumpahkan unek-unek dalam hatinya. Akibatnya untuk mencapai hal tersebut,  seseorang akan berupaya lebih giat.

d.      Kebutuhan akan harga diri
Semua orang dalam masyarakat mempunyai kebutuhan dan keinginan akan penilaian yang mantap, tidak dilecehkan dan ingin dihormati oleh orang lain sesuai dengan statusnya. Karena itu, orang akan berupaya untuk meraih dan mendapatkan sesuatu agar harga dirinya baik menurut pandangan masyarakat. Seseorang ingin mempunyai kekuatan, prestasi, kecukupan dalam kehidupan, kepercayaan diri, nama baik, gengsi, popularitas, martabat yang tinggi, pengakuan dan dominasi, yang semuanya itu akan bermuara pada pemenuhan kebutuhan harga diri.
e.       Kebutuhan mempertinggi prestasi kerja
Bentuk khusus dari kebutuhan ini akan berbeda pada setiap orang sesuai dengan perbedaan individual.Menurut Mangkunegara (2008 : 53) perilaku manusia dikuasai oleh the actualizing tendency, yakni suatu kecenderungan interen manusia untuk mengembangkan kapasitasnya sedemikian rupa untuk memelihara dan mengembangkan diri. Motivasi yang timbul akibat kecenderungan ini meningkatkan kemandirian dan mengembangkan kreativitas.
Dalam dunia pendidikan, peningkatan kemandirian dan pengembangan kreativitas guru berkaitan erat dengan kepuasan kerja dan kualitas pendidikan. Robbins (2008 : 284), berpendapat bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor intrinsik yang meliputi: (1) achievement (keberhasilan pelaksanaan); (2) recognation (pengakuan); (3) the work i tself (pekerjaan itu sendiri); (4) responsibility (tanggung jawab); dan (5) advecement (pengembangan)
Beberapa hal yang dapat menimbulkan rasa tidak puas pada seorang karyawan adalah: (1) company policy and administration (kebijaksanaan dan administrasi perusahaan); (2) tecnical supervision (supervisi teknis); (3) interpesonal supervision (hubungan antarpribadi); (4) working condition (kondisi kerja): dan (5) wage (gaji/upah).
Teori ini berkaitan erat dengan pengembangan sikap dan perilaku guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Misalnya, dengan keyakinan bahwa mengajar itu ibadah maka akan lahir sifat antusias, yaitu bekerja dengan rajin dan bertanggung jawab. Sifat ini sulit diamati dan diukur karena ia terlihat menurut penampakannya, baik melalui bahasa isyarat, gerak maupun alat (sarana teknologi) yang digunakan.
Komitmen guru yang tinggi terhadap pelaksanaan tugas, wewenang, dan tanggung jawab akan menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas sehingga tujuan pendidikan tercapai secara optimal. Sebaliknya, bila komitmen guru rendah, berdampak pada pencapaian tujuan pendidikan.
Agar komitmen guru kuat dan terpelihara harus ditunjang oleh kebijaksanaan sekolah yang berimbang antara kepala sekolah dengan guru dalam bidang teknik supervisi, hubungan antarpribadi, kondisi kerja, serta reword dan funisment. Artinya, kepala sekolah harus menempatkan sesuatu secara proporsional sehingga setiap guru tidak merasa dirugikan. Setiap guru merasa diakui dan dihargai. Kondisi  ini melahirkan budaya berkompetisi yang sehat pada diri setiap guru.

Daftar Bacaan
Adair, John. 2008. Kepemimpinan yang Memotivasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fitri. 2008. Pentingnya Motif Berprestasi. http//www. bina_mahasiswa.blogsot.com.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2008. Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Rafika Aditama.
Moekijat. 2002. Dasar-Dasar Motivasi. Bandung: Pionir Jaya.
Robbins, Stephen P, Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi Organizational Behavior (Buku 1). Jakarta: Salemba Empat.
Sudrajat, Ahmad. 2008. Sekilas tentang Motif Berprestasi. http//www.bina_mahasiswa.blogspot.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar